Pagi ini dibawah temaran sinar matahari yang masuk lewat jendela menyinari aku yang duduk di meja pemeriksa ini. Aku hanya duduk menuangkan pemikiran pemikiranku mengenai hidup ini.
Aku merenungi kisah kisah dalam kehidupan anak manusia. Aku memperhatikan tingkah dan laku mereka, bagaimana beraksi dan bereaksi. Aku memahami bagaimana seharusnya berlaku namun aku tidak dapat berbuat apa apa.
Aku hanya seperti orang lumpuh yang duduk di kursi pesakit tanpa bisa ikut bergerak dan berperan dalam dunia ini. Aku tidak dapat menggerakan tangan dan kakiku, bahkan jemariku pu
Pikiran pikiran inilah yang senantiasa membelenggu aku, yang menahanku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.
Aku menyadari ketika aku dipersalahkan aku mudah sekali frustasi, dan mundur aku bukanlah orang cukup tegar menghadapi kegagalan dan bangkit kembali dari kegagalan dan kegagalan lagi. Mataku terlampau tertuju melihat kegagalan dan kebobrokan dalam diriku. Selalu saja melihat dan mencari apa yang hilang di masa yang lalu namun tidak menatap ke depan dan apa yang dapat terjadi atau aku dapatkan di masa yang akan depan.
Seperti ada tembok besar atau sepertinya aku berhadapan dengan raksasa yang senantiasa membantingku dan terus mengalahkanku. Aku butuh kekuatan, aku butuh pengharapan, aku butuh motivasi yang menggerakkan aku. Pukulan-pukulan kegagalan menghantamku setiap harinya melemahkan diriku, dan terus membuatku gontai. Hal itu membuatku semakin jauh dari apa seharusnya aku lakukan dan aku berjalan semakin jauh dari tempat tujuanku.
Ada apa dengan diriku ? Siapakah yang dapat mengerti diriku ? Mengapakah aku berputar putar berjalan menyelusuri lorong lorong yang tidak seharusnya aku jalani. Aku mengambil pilihan yang membawa keluar dari jalur yang seharusnya kutempuh.
Di dalam diriku bergelora rasa hati untuk hanya menanti dan tidak berbuat. Menghindari terus kenyataan yang pahit dan mencari kenikmatan sesaat. Dalam benakku mencari pelampiasan sesaat ketimbang mendapatkan yang sejati itu.
Aku seorang pemberontak dan bersungut sungut dalam perjalanan hidupku ini. Ketimbang bersyukur, aku malahan menuntut Tuhan untuk terus mencukupi kebutuhanku. Walaupun sejatinya, Tuhan sudah memberikan segalanya bagiku. Namun aku enggan melangkah menuju yang sejati itu, sambil terus berteriak menangis dan meraung raung, kekanak-kanakan. Pengertianku tidak cukup untuk dapat memahami segala sesuatunya itu. Aku menuntut untuk dapat mengerti hidup ini, namun hidup ini bukan hanya sekedar pengertian melainkan sebuah perjalanan iman. Ada banyak hal yang tidak dapat dimengerti hanya dapat kita lakukan dengan mempercayakannya kepada empunya hidup.
Saat ini di titik ini, diriku berseteru melawan ketaatan yang semestinya. Aku menjadi pemberontak dalam hidup ini. Berteriak, memukul sembarangan, bereaksi hanya untuk mendapatkan pengakuan akan siapa diriku dan keberadaan diri. Namun, aku nyatanya tidak pernah ada karena aku tidak menjadi apa seharusnya aku menjadi.
Aku pun khawatir ketika orang mengetahui kelemahanku ini dan mereka memandang dengan sinis dan mengarahkan telunjuk mereka ke depan wajahku dan berkata, "dia orangnya" . Aku takut menghadapi mereka dan tuduhan mereka. Sehingga ingin rasanya aku membenamkan wajahku ke dalam tanah dan tidak ingin melihat lagi ke masa depan. Aku ingin menguburkan diri pada masa laluku yang indah indah. Rasanya aku ingin mati saja.
...
Sore hari ini aku membaca sebuah renungan yang berkata kalau kita hanya memperhatikan musim saja dan kita memperhatikan matahari dan angin saja maka kita tidak akan pernah menanam dan kalau kita tidak pernah menanam kita tidak akan pernah menuai. Oleh karena itu mulai bekerja dari mulai pagi dan janganlah tangan kita berhenti bekerja hingga petang tiba karena kita tidak pernah tahu apakah hasil upaya kita itu akan berhasil atau tidak. Tetaplah bekerja dengan giat dan bekerja sedikit demi sedikit dan janganlah berhenti.
...
Dalam hidupku ini aku berhenti bekerja. Aku hanya banyak menghabiskan waktu meratap akan kegagalan dan hanya meratapi nasib dan peristiwa yang telah berlalu. Sementara itu aku berhenti berusaha dan berhenti berfikir akan masa depan. Memang aku tidak dapat menentukan masa depan. Tetapi jikalau aku tidak berusaha maka sudah jelaslah aku menentukan masa depanku dalam kegagalan. Padahal yang harus diupayakan adalah jangan menyerah dan terus berusaha walau bagaimana pun.
Katakanlah kepada dirimu, “Kamu itu seorang pejuang ! Pejuang yang berjuang hingga titik darah penghabisan dan bukan pejuang yang mudah menyerah begitu saja.”
Mengapakah kamu kini hanya diam dan meratap akan segala kesalahan dan kegagalan yang kau perbuat di masa lampau. Sementara kamu tidak dapat mengubah apapun pada masa lalumu. Yang dapat kau lakukan adalah mulai melangkah dan berbuat apa yang perlu kamu kerjakan dan masa depan itu masih ada dan kesempatan untuk menuliskan apa yang terjadi pada masa depanmu. Ketika kamu hanya diam saja kamu sudah menuliskan masa depanmu di dahimu dengan tulisan “pecundang”
...
Bagaimana kalau aku akan kembali lagi mengulangi kesalahan kesalahanku dan kembali pada jalanku, kembali pada kebiasan kebiasanku. Saat ini hal inilah yang terus datang membayang kehidupanku. Kesalahan, kembali membuat keputusan yang salah dan menyerahkan diri kepada kesenangan sementara yang bersifat murah. kenikmatan seketika yang menghancurkan diri dan masa depanmu. Suatu kenikmatan yang memporak porandakan rancangan mulia dan sebuah masa depan indah nan cemerlang. Sebuah kondisi yang membuatku merangkak kembali dan mengais-ngais dari tanah. Kehilangan akan segalanya. Hanya kehidupan yang nista, yang penuh dengan noda derita dan cela. Walau tidak ada orang yang tahu namun terus saja perasaan ini mengekang diriku dan membelengguku. Menyeretku masuk kembali ke dalam duka dan ratap. Di dalamnya hanya ada kertak gigi dan kepahitan. Tulang tulangku terasa ngilu, dan hatiku pedih.
...
Setiap kali aku mengingatnya aku menanggung rasa malu dan rasa ini mematikan diriku. Aku terus menerus menjadi tertuduh dan terdakwa. Aku tercoreng dan aku terus dihakimi dengan apa yang aku tahu sebagai hukum itu. Semakin lama aku meninggalkan apa itu kasih dan menganggapnya sepi. Tidak lagi aku dalam pelukan kasih itu dan aku meninggalkannya. Aku berlari tak mau dipeluk, aku merasa diriku terlampau hina untuk mendapatkan dekapan pelukan kasih ilahi dan pengampunan tersebut. Tuduhan itu menjadi nyata dan aku membuat diriku sebagai terpidana yang harus menanggung semua kesalahan itu, atau aku menjadikan diriku yang tidak mengenal akan kasih itu atau menjadi orang yang tidak tahu diri. Aku menyadari diri dikasihi namun aku tidak menyianyiakan kasih itu. Aku tidak menolak kasih namun aku menyia nyiakan sebuah kehidupan berada dalam kasih itu.
...
“Ohh... Dia tahu... Dia tahu !” Dia mengetahui segalanya mengenai diriku. Kemanakah aku dapat berlari ? kemanakah aku dapat bersembunyi ?
Tidak tidak !!! aku tidak dapat jauh daripadaMU
Janganlah tunjukan wajahMU kepadaku !
Aku tidak tahan melihat kemuliaanMU !
Aku ini hina... Aku ini yang berdosa dari hadapanMU... aku ini adalah kegagalan...
Aku mengecewakanMU...
“Sampai kapankah kamu menyia-nyiakan hidupmu yang Ku berikan ?”
“Tidakkah kamu sadar kesempatan itu ada pada setiap detik yang Ku percayakan kepadaMU.”
“Apakah aku menghukumMU ? Kau mengetahui akan hukum tabur dan tuai, hukum sebab dan akibat. Namun apakah aku menjatuhkan hukuman atas dirimu ?”
“Sejatinya kau kan mati dan binasa kalau hukuman itu jatuh akan dirimu, namun AKU mengasihimu anakku, bahkan anak sulungku ku korbankan bagimu supaya kamu menjadi anakku dan kita menjadi satu seperti AKU dengan anak tunggalku itu. Kamu sudah ku angkat menjadi anakku karena DIA telah mati bagimu.”
“Mengapakah engkau menentukan kematian bagi hidupmu sendiri ? Mengapakah engkau hidup seperti engkau masih dalam kematian dan dalam kuasanya ? Tidakkah engkau menyadari bahwa kasih anugerahKU itu cukup bagimu ?”
“Janganlah hidup bertekun dalam dosa dan berkubang di dalam seperti orang orang yang tidak mengenalKU !”
...
Inilah tulisanku, inilah isi hatiku, ini isi pikiranku, inilah yang aku hadapi kini. Saat dimana aku hanya sebagai seorang pengembara di padang gurun ketika aku dilepaskan dari perbudakan namun aku bersungut sungut dan hidup dalam ketidak taatan. Kehidupanku menuju tanah perjanjian itu. Menjadi seorang pribadi yang Tuhan inginkan. Menjadi berkat bagi umat manusia, menjadi alat dalam tangan Tuhan.
...
Apakah yang kini aku telah lakukan wahai Theo